Berkunjung ke Gumuk Pasir Parangtritis/Parangkusumo

Berkunjung ke Gumuk Pasir Parangtritis/Parangkusumo

Biasanya, orang-orang yang berkunjung ke daerah pantai ingin menikmati pemandangan pantai yang indah. Tapi, pemandangan pantai yang indah bukanlah satu-satunya hal yang dapat dinikmati oleh mereka yang berkunjung ke Pantai Parangtritis dan Pantai Parangkusumo. Disana, terdapat Gumuk Pasir Parangtritis/Parangkusumo. Sekilas memang daerah tersebut tampak seperti daerah dengan hamparan pasir biasa. Tapi, sebenarnya gumuk pasir ini bukanlah hamparan pasir pantai biasa. Bahkan, menurut para ahli, sebenarnya gumuk pasir tersebut adalah gumuk pasir yang paling lengkap di Indonesia, atau bahkan mungkin di dunia. Jadi, tidak heran jika gumuk pasir tersebut sering didatangi oleh para peneliti.

Gumuk Pasir Parangtritis/Parangkusumo sangat menarik untuk dikunjungi, tidak hanya bagi orang-orang yang ingin melakukan penelitian, tapi juga bagi orang-orang biasa. Biasanya, ada cukup banyak wisatawan yang datang ke gumuk pasir tersebut untuk melakukan pengambilan foto. Memang, pemandangan hamparan pasir yang ada disana sangat menarik, dan dapat menjadi latar belakang foto yang indah. Kawasan ini cocok untuk pengambilan foto untuk pre-wedding, foto model, dan yang lainnya. Biasanya, orang-orang yang datang untuk pengambilan foto datang pada saat pagi atau sore hari. Selain itu, karena menemukan hamparan pasir yang luas seperti di gumuk pasir ini tidak mudah, tempat tersebut seringkali digunakan untuk shooting film, baik film lokal, maupun film internasional yang membutuhkan setting di gurun pasir. Terkadang, gumuk pasir ini juga digunakan sebagai tempat shooting video clip.

Fenomena gumuk pasir sebenarnya merupakan hal yang sangat langka. Apalagi, gumuk pasir ini terbentuk di tempat yang curah hujannya tinggi. Jadi, tidak heran jika gumuk pasir ini dijadikan sebagai laboratorium alam. Selain itu, disana juga dibangun Museum Geospasial Gumuk Pasir. Di Gumuk Pasir Parangtritis/Parangkusumo terdapat berbagai tipe gumuk pasir, seperti lingkaran, tapal kuda, parabola, dan masih banyak lagi. Menurut para ahli, pembentukan Gumuk Pasir Parangtritis/Parangkusumo memakan waktu ribuan tahun. Pasir yang ada di gumuk pasir tersebut berasal dari material vulkanik Gunung Merapi. Arus sungai membawa material vulkanik dari Gunung Merapi sampai ke muara. Kemudian, ombak samudera menghantamnya hingga ke daratan.

Lokasi Gumuk Pasir Parangtritis/Parangkusumo cukup mudah untuk ditemukan. Letak gumuk pasir ini tidak jauh dari Pantai Parangtritis dan Pantai Parangkusumo. Cara termudah untuk menemukan lokasi gumuk pasir ini adalah dengan mencari penginapan bernama Losmen Asoka terlebih dahulu. Dari sana, kita tinggal berbelok ke kanan dan lurus terus, dan kita akan sampai di gumuk pasir. Jalan menuju gumuk pasir ini sudah beraspal, jadi perjalanan terasa nyaman. Waktu terbaik untuk berkunjung ke gumuk pasir yang unik ini adalah pada pagi atau sore hari. Jika kita datang pada siang hari, kita harus merasakan panasnya sinar matahari.

Candi Gebang – Candi yang Tidak Jauh Dari Pusat Kota

Candi Gebang – Candi yang Tidak Jauh Dari Pusat Kota
Biasanya para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta akan berkunjung ke Candi Prambanan, atau Candi Borobudur yang letaknya juga tidak terlalu jauh. Tapi sebenarnya, di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, masih ada beberapa candi lain yang dapat mereka kunjungi. Hanya saja, memang candi-candi ini tidak terlalu terkenal. Bahkan, nama candi-candi ini jarang terdengar. Salah satu candi yang ada di Yogyakarta yang tidak terlalu terkenal, padahal mempunyai nilai historis yang tinggi, adalah Candi Gebang. Bahkan, saat mendengar nama Candi Gebang, kebanyakan orang malah cenderung berpikir tentang sebuah perumahan dengan nama itu. Padahal, nama perumahan itu diambil dari nama candi ini, yang letaknya memang cukup berdekatan.

Letak Candi Gebang tidak terlalu jauh dari pusat kota Yogyakarta, yaitu di Dusun Gebang, Kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Menurut para ahli, candi ini dibangun pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, yaitu pada abad ke 8 M. Ini dapat dilihat dari bentuk candi yang tinggi pada bagian kaki. Selain itu, candi ini tidak dihiasi dengan relief. Candi ini sudah lama ditemukan. Candi ini ditemukan oleh Van Romondt pada tahun 1936, kemudian mulai dipugar dari tahun 1937 sampai dengan tahun 1939. Ukuran Candi Gebang tidak terlalu besar. Mungkin karena ukurannya yang relatif kecil inilah, candi ini tidak menjadi terkenal seperti Candi Prambanan atau Candi Borobudur. Ukuran Candi Gebang kira-kira 5,25 x 5,25 meter. Sedangkan untuk tingginya, kira-kira candi ini setinggi 8 meter.

Candi Gebang adalah candi dengan puncak berbentuk lingga, yang menghadap ke timur. Di dalam ruang candi, terdapat sebuah yoni. Tapi, lingga yang tadinya menancap di atas yoni sudah tidak ada. Sedangkan di sisi pintu candi ini, terdapat dua relung. Salah satu dari relung tersebut berisi Arca Nandiswara. Konon, dulunya, di relung yang sekarang kosong, terdapat arca Mahakala. Sayangnya, tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi dengan arca tersebut. Dari Arca Ganesha dan keberadaan lingga serta yoni, bisa dipastikan bahwa candi ini adalah candi Hindu.

Lokasi & Harga Tiket Masuk Candi Gebang

Candi Gebang adalah sebuah candi yang unik. Candi ini polos, tanpa relief. Candi Gebang letaknya tidak jauh dari pusat kota Yogyakarta. Hanya saja, memang, letak candi ini cukup tersembunyi sehingga banyak orang yang ingin berkunjung kesana kesulitan untuk menemukannya. Cara termudah untuk mengunjungi candi ini adalah dengan menemukan Pasar Condongcatur terlebih dahulu. Letak pasar ini di pinggir ring road, yang jika dari arah barat, terletak di kiri jalan, sebelum kampus UPN Veteran. Di pasar ini, para wisatawan dapat meminta salah satu tukang ojek yang ada disana untuk mengantarkan ke lokasi Candi Gebang. Biasanya, mereka bersedia mengantarkan dengan tarif sekitar Rp. 10.000,- saja. Sedangkan untuk masuk ke Candi Gebang, tarifnya sukarela.

Peta Candi Gebang

Kereta Gantung di Pantai Timang

Saat mendengar istilah “kereta gantung,” sebagian besar dari kita akan membayangkan sebuah kereta gantung yang dibuat dengan teknologi modern. Tapi, Kereta Gantung di Pantai Timang bukanlah kereta gantung semacam ini. Kereta gantung yang ada di pantai yang letaknya terpencil ini adalah kereta gantung sederhana yang dibuat dengan peralatan seadanya. Mereka yang berminat untuk naik kereta gantung tradisional ini dapat mengunjungi Pantai Timang. Memang, nama pantai ini terdengar masih asing, dan bahkan warga Yogyakarta pun banyak yang belum pernah mendengarnya. Ini karena Pantai Timang letaknya terpencil, dan memang bukan merupakan pantai yang dibuka untuk para wisatawan. Tapi tentunya, siapapun diperbolehkan untuk mengunjungi pantai ini.
Pantai Timang masuk dalam wilayah Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunungkidul. Mereka yang ingin berkunjung ke Pantai Timang harus rela bersusah payah untuk menemukan pantai yang terpencil ini.

Memang, ada banyak website yang menyediakan informasi mengenai arah ke Pantai Timang. Tapi, tetap saja pantai ini sulit untuk ditemukan. Bahkan, dalam perjalanan, biasanya penduduk yang ditanyai akan memberikan rute yang berbeda-beda, sehingga justru menjadi semakin membingungkan. Selain itu, tidak jarang para penduduk malah melihat dengan pandangan yang agak aneh saat ditanya arah ke Pantai Timang. Mungkin karena pantai ini memang bukan pantai untuk wisata.

Kereta Gantung
wisata ekstrem

Berikut adalah cara yang paling mudah untuk mengunjungi Pantai Timang. Pantai ini letaknya sekitar 4 kilometer dari jalan raya yang menuju ke Pantai Siung. Yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah menemukan lapangan bola Desa Purwodadi. Dari sana, kita harus masuk ke arah barat, dan menyusuri jalan yang di cor blok. Kita akan menemukan perempatan Balai Dusun Danggolo. Dari sana, kita harus lurus terus, sampai tiba di jalanan yang kasar dan terbuat dari bebatuan. Kondisi jalan sangat parah, dan licin saat hujan. Karena itulah sebaiknya kita menggunakan kendaraan yang tangguh, baik itu sepeda motor, ataupun mobil dengan ground clearance yang tinggi.

Informasi mengenai Kereta Gantung di Pantai Timang menyebar hanya dari mulut ke mulut. Tapi yang jelas, saat tiba di pantai yang terpencil ini, semua rasa lelah yang timbul selama perjalanan akan hilang. Pemandangan di Pantai Timang sangat indah. Selain itu, karena memang Pantai Timang bukanlah pantai wisata, suasana disana juga sangat tenang. Hal yang paling menarik yang dapat kita temukan di pantai ini tentu saja adalah kereta gantungnya. Sebenarnya, Kereta Gantung di Pantai Timang bukanlah wahana yang disediakan untuk wisatawan, tapi alat yang digunakan oleh penduduk sekitar untuk menyeberang ke sebuah batu karang raksasa di tengah laut, dimana mereka biasa menangkap lobster. Jika kita berminat untuk mencoba menaiki kereta gantung ini, kita bisa menghubungi warga yang berjaga disana. Tarif untuk naik kereta gantung ini Rp. 100.000,- untuk pulang pergi.

Kereta Gantung di Pantai Timang hanya cocok untuk orang-orang yang berjiwa petualang, atau cenderung nekat. Naik kereta gantung yang dibuat dengan alat seadanya, dan ditemani dengan percikan ombak yang besar di bawah, sudah pasti akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Rute Menuju Pantai Timang Gunung Kidul

Perjalanan darat dari kota Yogyakarta ke Pantai Timang memerlukan waktu sekitar 2 jam. Untuk mencapai pantai ini pengunjung akan sedikit mengalami kesulitan karena kurang terdapat papan penunjuk yang memadai. Jarak pantai Timang dari kota Wonosari (Ibukota Kabupaten Gunungkidul) sekitar 35 km. Dari arah Wonosari pengunjung akan melalui jalan arah ke Pantai Baron untuk dapat sampai. Dari pertigaan Mulo pengunjung berbelok dari semula ke arah pantai Baron menjadi ke Pantai Siung hingga menjumpai Pasar Dakbong. Setelah melewati pasar tersebut jalan jalanan mulai berganti dari aspal menjadi jalan tanah berbatu layaknya jalan untuk kompetisi off-road. Penggunaan motor untuk segala medan akan lebih memudahkan perjalanan. Pantai ini diapit oleh pantai-pantai sepanjang pesisir daerah Tepus. Di sebelah barat pantai ini terdapat pantai-pantai yang sejajar dengan Timang diantaranya Pantai Seruni, Pantai Pok Tunggal, dan Pantai Ngetun. Di sebelah timur pantai ini terdapat Pantai Jogan, Pantai Siung, dan Pantai Nglambor

Peta Pantai Timang Gunung Kidul

Menikmati Lezatnya Sate Kambing Samsuri

Menikmati Lezatnya Sate Kambing Samsuri

wisata kuliner
wisata kuliner sate kambing

Di Yogyakarta ada banyak sekali rumah makan yang menjual sate kambing. Tapi, jika Anda ingin menikmati sate kambing yang rasanya benar-benar enak, Anda harus mencoba mengunjungi Sate Kambing Samsuri. Warung yang menjual sate kambing dan beraneka ragam menu kambing lainnya ini terletak di Sambilegi, Maguwoharjo. Untuk sampai ke warung ini, Anda tinggal menyusuri ring road yang menuju ke arah bandara, kemudian masuk ke arah utara (kiri jalan) setelah melewati pertigaan ringroad Maguwo sejauh sekitar 400 meter. Letak warung ini sekitar 500 meter dari belokan tersebut. Biasanya, pada jam makan siang, warung ini dipenuhi oleh pembeli, sehingga Anda pasti dapat dengan mudah menemukannya.

Walaupun Sate Kambing Samsuri sangat terkenal, Anda jangan membayangkan akan menemukan sebuah rumah makan sate kambing yang mewah. Tampilan warung sate kambing yang terkenal ini bisa dibilang sangat sederhana. Bahkan, jika disana tidak berjajar kendaraan para pembelinya, mungkin Anda akan merasa ragu untuk mencoba. Mungkin pemilik warung sate ini memang sengaja mempertahankan kesederhanaan warungnya. Selain itu, proses pengolahan daging kambing di warung ini pun masih menggunakan cara-cara dan alat-alat tradisional. Tapi, walaupun warung sate kambing ini terlihat sangat sederhana, disana tersedia areal parkir yang cukup luas dan bisa menampung banyak mobil.

Jika Anda adalah seorang penggemar daging kambing, Sate Kambing Samsuri adalah warung yang paling pas untuk Anda kunjungi. Biasanya, sate kambing identik dengan daging yang agak alot. Tapi, sate kambing muda yang dijual di warung ini berbeda, karena dagingnya empuk, dan rasa dari bumbunya juga meresap dengan baik. Selain sate kambing, warung ini juga menjual menu-menu daging kambing lainnya yang rasanya tidak kalah lezat, seperti tengkleng, gulai, dan tongseng. Jika Anda berkunjung ke warung ini pada jam makan siang, Anda harus bersabar menunggu giliran karena antrian pasti panjang. Tapi yang jelas, Anda tidak akan merasa kecewa, dan rasa lapar selama menunggu akan membuat Anda semakin lahap dalam menyantap hidangan yang disajikan.

Di Yogyakarta sebenarnya ada banyak sekali warung yang menjual sate kambing. Tapi, hebatnya, warung Sate Kambing Samsuri terkenal hingga ke luar kota Yogyakarta. Jadi, jangan heran jika Anda menjumpai banyak mobil dengan plat luar kota disana. Selain itu, banyak pelanggan warung sate kambing ini yang merupakan public figure seperti artis atau pejabat. Selain rasanya yang lezat, sate, tengkleng, gulai dan tongseng yang disajikan di Sate Kambing Samsuri harganya juga sangat terjangkau. Kombinasi antara rasa yang lezat dan harga yang terjangkau inilah yang membuat Sate Kambing Samsuri menjadi sangat terkenal. Selain menu-menu daging kambing, warung ini juga menyajikan berbagai macam minuman.

Peta Sate Kambing Samsuri

Mencicipi Tongseng Bulus Kranggan

Mencicipi Tongseng Bulus Kranggan

tongseng bulusRasa kenyang bukanlah satu-satunya hal yang dikejar saat orang-orang mengunjungi sebuah rumah makan. Ada banyak rumah makan yang ramai dikunjungi oleh pembeli karena khasiat dari menu-menu yang disajikannya. Contohnya rumah makan yang menjual Tongseng Bulus. Kalau ada banyak daging hewan yang lebih lazim untuk dijadikan tongseng, seperti kambing dan ayam, kenapa harus bulus? Ternyata, konon, daging bulus mempunyai banyak khasiat. Beberapa penyakit yang diyakini dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi daging bulus antara lain adalah sesak nafas, asma, dan sakit gigi. Dan ternyata, tidak hanya dagingnya saja yang dipercaya mempunyai khasiat. Konon, batok tempurung bulus dapat mempercepat sambung tulang. Dan tangkur bulus, dipercaya dapat meningkatkan keperkasaan lelaki. Sedangkan minyak bulus, dipercaya dapat memperhalus kulit.

Di Yogyakarta ada beberapa rumah makan yang menyajikan tongseng bulus. Salah satu diantaranya adalah rumah makan milik Mbak Yanti yang ada di Jalan Kranggan Kios Nomor 1. Rumah makan sate dan tongseng bulus ini sudah ada sejak sekitar 15 tahun yang lalu. Dulu, yang berjualan sate dan tongseng bulus adalah kakek dari Yanti yang bernama Ali. Memang tidak seperti rumah makan yang menjual menu-menu standar, rumah makan sate dan tongseng bulus ini tidak penah terlihat ramai sekali. Tapi yang jelas, setiap harinya rumah makan ini didatangi sekitar 5 atau 6 orang yang sudah merupakan langganan. Bumbu tongseng yang digunakan untuk membuat tongseng bulus hampir sama dengan bumbu yang digunakan untuk membuat tongseng biasa. Tapi, khusus untuk sate bulus, rasanya memang agak pedas. Tapi ini justru bagus karena dapat mengurangi bau atau rasa amis daging bulus.

Dari segi rasa, sebenarnya tongseng bulus cukup enak. Begitu pula dengan sate bulus. Hanya saja, memang daging bulus sedikit amis. Tapi, setelah terbiasa, kita tidak akan menyadarinya, dan tentu saja akan terus makan dengan lahap. Harga tongseng bulus tidak mahal. Untuk membeli satu porsi tongseng bulus, kita hanya perlu membayar Rp. 12.000,- saja. Sedangkan untuk membeli satu porsi sate bulus yang berisi 5 tusuk, kita harus membayar Rp. 15.000,-. Seringkali ada pembeli yang datang khusus untuk membeli tangkur bulus. Dibandingkan dengan dagingnya, harga tangkur bulus jauh lebih mahal, sekitar Rp. 25.000,-. Konon, tangkur bulus sangat bermanfaat bagi para lelaki yang ingin meningkatkan kejantanannya.

Dalam sehari, rumah makan yang menjual menu bulus ini menghabiskan 1 atau 2 ekor bulus. Daging bulus yang dijual di rumah makan ini didapatkan dari Pusat Penampungan dan Budidaya Bulus. Rumah Makan Sate dan Tongseng Bulus Mbak Yanti buka dari jam 10.00 hingga 21.00. Selain menjual sate dan tongseng bulus, rumah makan ini juga menjual minyak bulus dalam kemasan 15cc dan 100 cc.

Peta Tongseng Bulus Kranggan

wisata kuliner : sate Klatak

 

sate klatak
sate klatak

wisata kuliner : sate Klatak 

Sate klatak apa itu? Mungkin itu pertanyaan wajar apabila Anda berkunjung ke Kota Bantul, Yogyakarta akan bertanya-tanya karena di sepanjang jalan utama kota tersebut banyak warung makan sate klatak.

Kalau Anda penasaran cobalah mampir ke warung sate klatak Pak Pong yang tiap hari selalu ramai pengunjung dan dijamin sate klatak nya empuk. Sate klatak adalah sate daging kambing muda yang ditusuk dengan jeruji sepeda. Tusukannya bukan tusukan bambu biasa dan ukuran potongan daging kambingnya lebih besar tiga kali dari sate biasa. Tidak heran kalau penyajiannya tiap porsi hanya dua tusuk dan harganya Rp 12.000. Jadi harga per tusuknya Rp 6.000.

Sate klatak memiliki keunikan dan berbeda dengan sate biasa. Pada proses pembakaran sate klatak hanya dibumbui garam saja dan polos warnanya. Sedangkan sate biasa biasanya dibumbui lengkap dan sausnya sudah lazim dengan kacang atau kecap manis. Sate klatak yang bikin unik adalah cara penyajiannya dengan kuah gule kambing yang kental.

Sate klatak bertambah nikmat apabila makannya ditambahi menu lain tongseng dan tengkleng kambing. Paling istimewa menu tongseng kambing kepala. Tongsengnya lengkap banget ada mata, lidah, daging dan telinga dari kepala sapi. Harganya cukup murah untuk warga Jakarta, seporsi Rp 15.000 dibanding harga tongseng kambing biasa cukup Rp 10.000.

Makan di Warung Pak Pong perlu kesabaran. Karena pas hari libur pengunjungnya sangat ramai dan cara masak tongseng harus langsung dimasak per pesanan maka pengujung harus sabar menunggu kalau pesan makanan.

Tapi jangan khawatir bagi pengunjung yang kelaparan dan buru-buru ingin makan sate klatak. Pasalnya di daerah Bantul banyak berjejer warung sate klatak terutama yang di Jalan Imogiri Timur, Bantul. Anda tinggal pilih warung mana yang sepi pengunjung untuk memesan sate klatak.  Salah satu yang terkenal adalah sate klatak pak pong, jika di bandingkan dengan warung yang lain warung sate pak paong mempunyai tempat yang lebih luas dan mempunyai suasana yang paling pas untuk nongkrong atau sekerdar santai bersama keluarga atau rekan. Jika saya perhatikan para pengunjung , ada sebagian yang memang sengaja meeting disana. keren kan.

Pantai Indrayanti

 

pantai indrayani
pantai indrayani

Pantai Indrayanti | saat ini menjadi salah satu pantai terkenal di Gunung Kidul. Pantai in menarik karena mempunyai garis pantai dengan paris putih yang menawan. Sejauh mata memandang pasir putih dan bersih menghampar. Boleh dibilang diantara deretan pantai lain di Gunung Kidul, Indrayanti adalah salah satu yang terindah.

Taukah anda bahwa Pantai Indrayanti bernama Pantai Pulang Syawal aslinya. Sebenarnya Indrayanti bukanlah nama pantai, tapi nama pemilik cafe dan restoran. Akan tetapi nama Indrayanti lebih terkenal dari pada Pantai Pulang Syawal.

Pantai Indrayanti berdekatan dengan pantai lain seperti Baron, Krakal dan Kukup. Tiket masuk dapat menggunakan tiket terusan yang diperoleh di TPR.

Terletak di sebelah timur Pantai Sundak, pantai yang dibatasi bukit karang ini merupakan salah satu pantai yang menyajikan pemandangan berbeda dibandingkan pantai-pantai lain yang ada di Gunungkidul. Tidak hanya berhiaskan pasir putih, bukit karang, dan air biru jernih yang seolah memanggil-manggil wisatawan untuk menceburkan diri ke dalamnya, Pantai Indrayanti juga dilengkapi restoran dan cafe serta deretan penginapan yang akan memanjakan wisatawan. Beragam menu mulai dari hidangan laut hingga nasi goreng bisa di pesan di restoran yang menghadap ke pantai ini. Pada malam hari, gazebo-gazebo yang ada di bibir pantai akan terlihat cantik karena diterangi kerlip sinar lampu. Menikmati makan malam di cafe ini ditemani desau angin dan alunan debur ombak akan menjadi pengalaman romantis yang tak terlupa.

Penyebutan nama Pantai Indrayanti sebelumnya menuai banyak kontraversi. Indrayanti bukanlah nama pantai, melainkan nama pemilik cafe dan restoran. Berhubung nama Indrayanti yang terpampang di papan nama cafe dan restoran pantai, akhirnya masyarakat menyebut pantai ini dengan nama Pantai Indrayanti. Sedangkan pemerintah menamai pantai ini dengan nama Pantai Pulang Syawal. Namun nama Indrayanti jauh lebih populer dan lebih sering disebut daripada Pulang Syawal. Keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan Pantai Indrayanti rupanya turut membawa dampak positif. Berbeda dengan pantai-pantai lain yang agak kotor, sepanjang garis pantai Indrayanti terlihat bersih dan bebas dari sampah. Hal ini dikarenakan pengelola tak segan-segan menjatuhkan denda sebesar Rp. 10.000 untuk tiap sampah yang dibuang oleh wisatawan secara sembarangan. Karena itu Indrayanti menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi.

Usai menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda di gazebo, kami beranjak menuju bukit di sisi timur. Berhubung tidak ada jalan, menerobos semak dan perdu sembari memanjat karang pun menjadi pilihan. Sesampainya di atas bukit pemandangan laut yang bebatasan dengan Samudra Hindia terhampar. Beberapa burung terbang sambil membawa ilalang untuk membangun sarang. Suara debur ombak dan desau angin berpadu menciptakan orkestra yang indah dan menenangkan. Kami pun melayangkan pandangan ke arah barat. Beberapa pantai yang dipisahkan oleh bukit-bukit terlihat berjajar, gazebo dan rumah panggung terlihat kecil, sedangkan orang-orang laksana liliput. Saat senja menjelang, tempat ini akan menjadi spot yang bagus untuk menyaksikan mentari yang kembali ke peraduannya. Sayang rombongan harus bergegas pulang. Meski tidak sempat menyaksikan senja yang indah, pesona Pantai Indrayanti telah terpatri di hati.

Lokasi & Harga Tiket Masuk Pantai Indrayanti

Jika berangkat dari kota Yogyakarta anda bisa melewati Wonosari, kita harus mengambil arah lurus menuju ke Bunderan Siyon. Kita bisa memilih melewati pusat kota dengan berjalan lurus atau mengambil rute Ring Road di arah kanan.Dari pertigaan Mulo ini ambil yang ke arah Kiri yaitu ke arah Tepus atau Jepitu. Dusun atau desa yang dilewati adalah Mentel, Sidoharjo/Bintaos (ada kantor Kecamatan Tepus atau swalayan Halaga) terus saja sampai pertigaan desa Tepus – ambil yang ke arah kanan kepantai Indrayanti. Tarif ke Pantai ini sebesar Rp 10.000.

Peta Pantai Indrayanti